Beranda | Artikel
Hubungan Antara Hidayah dan Rahmat Allah
15 jam lalu

Hubungan Antara Hidayah dan Rahmat Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 1 Safar 1448 H / 16 Juli 2026 M.

Kajian Islam Tentang Hubungan Antara Hidayah dan Rahmat Allah

“Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan di dalam beberapa ayat Al-Qur’an antara petunjuk dan ketakwaan, juga antara kesesatan dan penyimpangan, maka demikian pula Dia menggandengkan antara petunjuk dan rahmat-Nya, serta antara kesesatan dan kesengsaraan.”

Prinsip tersebut bermakna bahwa petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan diperoleh oleh seorang hamba yang selalu berusaha mengamalkan hal-hal yang menjadi sebab turunnya rahmat Allah. Sebaliknya, kesengsaraan selalu beriringan dengan kesesatan. Orang-orang yang memilih untuk mengikuti jalan yang menyimpang dari jalan yang lurus dipastikan akan mendapatkan kecelakaan, kesengsaraan, serta kebinasaan.

Hubungan Petunjuk dan Rahmat dalam Al-Qur’an

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan beberapa contoh ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa hidayah atau petunjuk senantiasa digandengkan dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

1. Surah Al-Baqarah Ayat 5

Contoh pertama terdapat di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah[2]: 5)

Orang-orang yang selalu berada di atas petunjuk dari Rabbnya merupakan golongan yang mendapatkan keberuntungan sejati, yaitu dengan meraih rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi sebab utama keberuntungan mereka.

2. Surah Al-Baqarah Ayat 157

Contoh berikutnya terdapat pada firman-Nya:

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah[2]: 157)

Ayat ini secara jelas menggambarkan keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, yaitu mereka yang mengucapkan kalimat istirja: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Atas kesabaran tersebut, mereka dianugerahi selawat berupa pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, limpahan karunia, serta rahmat-Nya. Selain itu, mereka ditegaskan sebagai golongan yang mendapatkan petunjuk. Keterkaitan ini menunjukkan bahwa semakin seseorang mengusahakan sebab-sebab turunnya rahmat, petunjuk kebaikan di dalam dirinya akan semakin disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Surah Ali ‘Imran Ayat 8

Korelasi antara petunjuk dan rahmat ini juga tercermin di dalam doa orang-orang yang beriman yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 8)

Di dalam doa ini, permohonan agar hati tidak dipalingkan setelah mendapatkan hidayah digandengkan langsung dengan permohonan anugerah rahmat Allah. Hal ini menegaskan bahwa hidayah dan rahmat merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

4. Surah Al-Kahfi Ayat 10

Contoh lainnya ditunjukkan melalui doa para pemuda Ashabul Kahfi ketika mereka menyelamatkan diri dan bersembunyi di dalam gua:

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami’.” (QS. Al-Kahfi[18]: 10)

Doa para pemuda Ashabul Kahfi tersebut ditutup dengan permohonan petunjuk yang lurus dalam urusan yang mereka hadapi. Di dalam ayat tersebut, permohonan rahmat digandengkan langsung dengan permohonan petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ayat-ayat ini memberikan contoh yang sangat jelas mengenai korelasi yang erat antara petunjuk Allah dan rahmat-Nya.

5. Surah Yusuf Ayat 111

Contoh berikutnya terdapat di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-masing yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf[12]: 111)

Penggabungan kata petunjuk dan rahmat di dalam ayat ini menunjukkan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan dan senantiasa beriringan bagi orang-orang yang beriman.

6. Surah An-Nahl Ayat 64

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman di dalam ayat lain:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nahl[16]: 64)

Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelas atas segala perselisihan, sekaligus mengemban fungsi ganda yang saling berkaitan, yaitu sebagai petunjuk hidup sekaligus sumber rahmat.

7. Surah An-Nahl Ayat 89

Masih di dalam surah yang sama, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (muslim).” (QS. An-Nahl[16]: 89)

Rangkaian ayat tersebut memberikan faedah berharga bahwa petunjuk dan rahmat Allah selalu digandengkan. Seseorang yang paling gigih dalam mengusahakan sebab-sebab turunnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadi orang yang paling dekat dengan petunjuk-Nya.

Hubungan ini dapat dipahami dengan mengamati firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)

Takwa kepada Allah merupakan sebab utama turunnya rahmat. Oleh karena itu, ketakwaan juga menjadi sebab diperolehnya hidayah yang akan selalu ditambah dan disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada diri seorang hamba. Hal ini terjadi karena hamba tersebut terus berusaha memperbanyak amalan yang mengundang turunnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

8. Al-Qur’an sebagai Obat, Petunjuk, dan Rahmat

Korelasi ini kembali ditegaskan di dalam surah Yunus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Rabbmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus[10]: 57)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara sempurna sebagai sebaik-baik nasihat, obat penawar bagi penyakit hati yang ada di dalam dada, serta penuntun yang membawa petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Setelah menjelaskan kedudukan Al-Qur’an tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali mengulangi penyebutan kedua hal penting ini melalui firman-Nya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS. Yunus[10]: 58)

Penggandengan antara karunia dan rahmat merupakan bagian penting dari pembahasan mengenai keterikatan petunjuk dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memaparkan penjelasan dari ucapan para ulama salaf ketika menafsirkan makna karunia dan rahmat di dalam surah Yunus ayat 58. Beliau menjelaskan:

“Penjelasan para ulama salaf bervariasi dalam menafsirkan makna karunia dan rahmat. Pendapat yang shahih adalah bahwa keduanya bermakna petunjuk dan nikmat. Karunia Allah adalah petunjuk-Nya, sedangkan rahmat-Nya adalah nikmat-Nya.”

Sebagian ulama juga menafsirkan bahwa karunia Allah merujuk pada Al-Qur’an, sedangkan rahmat-Nya merujuk pada iman. Kedua penafsiran tersebut bermuara pada satu kesimpulan yang sama, yaitu korelasi yang tidak terpisahkan antara petunjuk dan nikmat agama yang merupakan karunia terbesar bagi seorang hamba.

Oleh karena itu, di dalam beberapa ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga senantiasa menggandengkan antara petunjuk (al-huda) dengan nikmat-Nya.

9. Surah Al-Fatihah Ayat 6–7

Hubungan erat ini tercermin di dalam surah Al-Fatihah ketika seorang hamba memohon bimbingan hidup:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya.” (QS. Al-Fatihah[1]: 6–7)

Lafal ihdina bermakna permohonan petunjuk, yang langsung diiringi dengan penjelasan mengenai jalan orang-orang yang telah dianugerahi nikmat. Mereka adalah golongan yang mendapatkan limpahan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang terdiri atas para nabi, orang-orang jujur (shiddiqin), para syuhada, serta orang-orang saleh.

10. Surah Ad-Duha Ayat 6–8

Penggabungan ini juga ditunjukkan ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai berbagai limpahan nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?” (QS. Ad-Dhuha[93]: 6–8)

Melalui ayat-ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun penjelasan mengenai hidayah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan nikmat nyata berupa perlindungan serta kecukupan materi.

11. Kisah Nabi Nuh dan Persaksian atas Rahmat

Keterkaitan antara petunjuk dan rahmat juga tercantum di dalam kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam ketika berdialog dengan kaumnya:

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِنْ عِنْدِهِ

“Dia (Nuh) berkata, ‘Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku dianugerahi rahmat dari sisi-Nya’.” (QS. Hud[11]: 28)

Nabi Nuh ‘Alaihissalam menyebutkan hujah atau petunjuk nyata (bayyinat) dari Tuhannya yang berjalan beriringan dengan rahmat yang beliau terima secara langsung dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui keteladanan para nabi ini, seorang hamba dituntut untuk senantiasa mengusahakan sebab-sebab yang dapat menyempurnakan hidayah di dalam dirinya.

Korelasi antara petunjuk dan nikmat juga tercermin di dalam kisah para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala terdahulu sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an.

12. Kisah Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam

Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam memberikan pernyataan kepada kaumnya:

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا

“Dia (Syu’aib) berkata, ‘Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbu dan Dia menganugerahkanku rezeki yang baik dari-Nya’.” (QS. Hud[11]: 88)

Melalui pernyataan tersebut, petunjuk yang berupa bukti nyata (bayyinat) digandengkan dengan nikmat yang nyata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa kelimpahan rezeki yang baik.

13. Kisah Nabi Khidir ‘Alaihissalam

Hubungan erat ini juga terlihat ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan pertemuan antara Nabi Musa ‘Alaihissalam dan Nabi Khidir ‘Alaihissalam:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka berdua (Musa dan muridnya) mendapati seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugerahkan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi[18]: 65)

Di dalam ayat ini, karunia rahmat disebutkan terlebih dahulu, yang kemudian diiringi dengan pengajaran ilmu dari sisi-Nya. Pengajaran ilmu tersebut merupakan bentuk petunjuk yang agung, yang keberadaannya selalu beriringan dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

14. Karunia Hidayah dan Penyempurnaan Nikmat bagi Rasulullah

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan gandingan hidayah dan nikmat ini di dalam surah Al-Fath ketika berbicara kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus, dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.” (QS. Al-Fath[48]: 1–3)

15. Dalam surah An-Nisa: 113

Kombinasi antara petunjuk dan karunia ini kembali ditegaskan di dalam surah An-Nisa:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” (QS. An-Nisa[4]: 113)

Diturunkannya Al-Qur’an serta hikmah merupakan bentuk hidayah yang nyata, yang kemudian ditegaskan sebagai bentuk karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat agung bagi diri beliau.

16. Dalam surah An-Nur: 21

Di dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai pentingnya perlindungan-Nya dari kesesatan:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya.” (QS. An-Nur[24]: 21)

Ayat ini sekali lagi menunjukkan keterikatan yang erat antara karunia Allah dan rahmat-Nya. Karunia Allah adalah hidayah-Nya, sedangkan rahmat Allah adalah nikmat, kebaikan, serta kasih sayang yang senantiasa dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya.

Banyaknya contoh di dalam Al-Qur’an mempertegas keterikatan antara kedua hal ini. Mempelajari agama serta mengamalkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebab utama yang akan mendatangkan limpahan nikmat, karunia, dan rahmat-Nya. Sebaliknya, kesesatan serta penyimpangan selalu berujung pada kecelakaan, kebinasaan, dan kesengsaraan. Hal ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Thaha:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha[20]: 123)

Ayat ini memberikan pernyataan yang sangat jelas bahwa orang yang mengikuti hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan terbebas dari kesesatan dan kesengsaraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa digandengkan dengan rahmat dan limpahan karunia-Nya. 

Hubungan Timbal Balik Petunjuk dan Rahmat

Di dalam memahami korelasi ini, terdapat kaidah penting:

“Petunjuk merupakan pencegah manusia dari kesesatan, sedangkan rahmat merupakan pencegah manusia dari kesengsaraan.”

Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an memberikan faedah dan pelajaran yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk senantiasa mengusahakan kedua kebaikan ini di dalam hidupnya.

Hakikat pencegahan dari kesengsaraan ini juga ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di awal surat Thaha melalui firman-Nya:

طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.” (QS. Thaha[20]: 1–2)

Al-Qur’an tidak diturunkan untuk menyulitkan atau menyengsarakan manusia. Sebaliknya, kitab suci ini diturunkan sebagai bentuk rahmat dan karunia yang sempurna bagi hamba-hamba-Nya. Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun dua nikmat sekaligus bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu nikmat diturunkannya Al-Qur’an serta dihilangkannya kecelakaan dan kesengsaraan dari diri beliau.

Penegasan tersebut sejalan dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala di bagian akhir surah Thaha bagi orang-orang yang setia mengikuti petunjuk-Nya:

فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha[20]: 123)

Penggabungan perlindungan dari kesesatan dan perlindungan dari kesengsaraan menunjukkan betapa eratnya hubungan antara petunjuk dan rahmat. Dengan mengusahakan salah satunya melalui amal saleh, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memudahkan hamba-Nya untuk mendapatkan yang lain melalui taufik dan karunia-Nya.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Hubungan Antara Hidayah dan Rahmat Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56381-hubungan-antara-hidayah-dan-rahmat-allah/